Minggu, 12 Maret 2023

Cariky - 1


*Warning: agak lebay untuk dibaca habis!!

Cerita hari ini tentang pembuktian kembali bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Baik

Aku si tukang ngeluh, tukang berprasangka kurang baik akan hari yg akan datang, hari ini lagi lagi ditunjukkan tentang kebesaran nya

Baru kemarin ngeluh2 tentang yg akan terjadi hari ini, berprasangka bahwa hari ini akan lelah, sedih dan menyebalkan

Ternyata Allah kasih kebaikan yg luar biasa πŸ₯Ί

Justru hari ini aku dibuatnya tidak lelah sama sekali, dibuat happy, dihindarkan dari hal2 menyebalkan, dan tanpa drama2 datang bulan 🌝


1. Ku pikir hari ini akan sehectic itu mengurus pembukaan kegiatan dengan drama protokoler dan sambutan bapak.

Tapi ternyata tidak. Saat tiba, bapak ga ada rewel cari2 aku dan ga ada minta pointer sambutan walau sudah aku siapkan jikalau beliau butuh. Ternyata bapak udah bikin draf sambutan sendiri πŸ₯° Lalu saat kegiatan berlangsung, tidak ada koordinasi MC kepada ku walau tengah malam sudah dikirimin 3 susunan apel berbeda dengan segala kemungkinan yg terjadi. Walaupun akhirnya berantakan juga dan sempet kena semprot "kok kamu ga pantau sih ki susunan apel si MC nya" πŸ˜† tapi masih aman lah yaaaaaa,,, gitu doangg


2. Hari ini dijadwalkan dengan 2 kegiatan. Lomba PMR dan Pelatihan PP Mitra sesi online. Dimana harusnya aku akan secara bersamaan riweh untuk pembukaan lomba, siapin booth fundraising dan di satu sisi akan riweh jadi host zoom meeting. Kebayang dong gimana hectic nya??? 

Tapi ternyata tidak. Pembukaan lomba aku sama sekali ga repot karena terkait point pertama (pointer & protokoler), jadi saat luang pembukaan aku bisa urus booth fundraising duluan. Lalu awalnya berfikir akan ngehost dulu di sekolah karna pasti ga keburu. Akhirnya waktunya bisa sangat pas bgt jam 08.42 bisa kabur dari tempat lomba. Jam 09.00 sampe parkiran markas, langsung buka zoom yg ternyata peserta nya belum banyak join room πŸ˜‰


3. Awalnya berfikir "oke lah pembukaan pelatihan dulu, terus pas room zoom aman atau sesi istirahat balik monitoring lokasi lomba lagi tektok pake eru" taunya pas mau makan, ketemu bapak dibawah. Dan saat kelar makan bapak ke ruangan liat progres kita sedang sesi pelatihan online. Lalu beliau berkata "yaudah, lanjutin ya berdua" ga ada kata2 tambahan mutiara berupa arahan untuk ke lokasi lomba lagi πŸ₯° ahhhhh seneng amatt.. Jadi bisa lanjut ngurus zoom dengan tenang, walau tetep ditelponin pak kabid teruzzzz 🀣


4. Sesi pelatihan online berjalan lancar, aman dan bisa selesai duluan 😎 tinggal nunggu yg sesi offline selesai dan balik markas dehhh

5. Saat menunggu lama dengan penuh kegelisahan "duh balik lagi ga ya ke lomba, kalo ga balik lagi pasti nanti jadi serba salah dan ga enak hati sama kabid dan semua org yg terlibat disana, karena aku si yg membidangi justru tidak ada"  tapiiiiiiii.... Tiba2 ka jamil udah sampe markas lagi (abis pergi kondangan) terus bilang jangan pulang dulu karena maeza mau ajak makan. oke! Setidaknya aku ada alasan/ dorongan lain untuk pada akhirnya tidak kembali ke lokasi lomba HEHEHE 😚

6. Tiba2 ka maeza ngajak makan yg super2 random sekaliiiiiii dan ada beberapa selipan kata2 manis dihari ini πŸ₯Ή

"Yuk makan yuk, buat hibur Kiky untuk pekerjaan nya hari ini karena sibuknya persiapan lomba dan ngurus pelatihan"

"Ky! Lu tuh emang harus sesekali bersikap cuek kayak gini. Ga semua harus diurusin"

Ya Allah.... Aku happy dan terharu banget sihhhhhh


Ka maeza ini adalah salah satu orang yg aku merasa beruntung bgt bisa miliki atau kenal. Kenapa??? Karena dia selalu siap support aku, selalu bisa kasih masukan2 positif dan menenangkan

Dannnnnn suka tiba2 bersikap manis bangettttt dengan cara nya sendiri (a.k.a gengsian) padahal cuteπŸ₯Ί

Contoh hal manis kayak sekedar tiba2 beliin cemilan, tiba2 kasih barang/ sovenir, si tiba2 belain aku ketika aku diserang pihak lain πŸ˜‹

Hal diatas dia lakukan hari ini, karena tau betapa drama nya aku dengan si penyelenggara. Bukan karena hanya sebatas masa lalu, tapi juga drama yg si penyelenggara buat di kegiatan minggu lalu, dimana saat itu aku sama sekali tidak dihargai dan dipojokan sebegitunyaaaa πŸ₯² sedihhhh deh dihari itu, sampe dijalan pulang pun air mata tiba2 ngalir gitu aja. Sampe maluuu gara2 keliatan sama mas2 Transjakarta cuenahhhh haha

Pokoknya hari ini aku bersyukur sekali, atas nikmat yang Allah SWT berikan pada hari ini. Ia tunjukan kembali kuasa nya, Masyallah <3 


Sabtu, 11 Maret 2023





Senin, 05 Oktober 2015

KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN RAGAM BAHASA INDONESIA

MAKALAH
KEDUDUKAN, FUNGSI DAN RAGAM BAHASA INDONESIA
Diajukan Sebagai




Tugas Kelompok Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Disusun Oleh :
Novrinaldo                   201501500296
Kiky Syafiti                  201501500301
Suci Ami Khadizah        201501500347

Dosen Pembimbing :    Royan Nur Fahmi, M.Pd

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL
JAKARTA




KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Kedudukan, Fungsi dan Ragam Bahasa Indonesia ini dengan baik meskipun masih terdapat kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Royan Nur Fahmi, M.Pd selaku Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia 1 yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami berharap makalah ini dapat berguna bagi semua pihak dalam hal menambah wawasan serta pengetahuan pembaca. Kami berharap adanya usulan, saran dan kritik demi perbaikan makalah yang akan kami buat dikemudian hari.


Jakarta, September 2015

Penulis













ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI  ………………………………………………………………………………………………… iii
BAB I : PENDAHULUAN                         
A.   Latar Belakang   ……………………………………………………………………………… 1
B.   Rumusan Masalah  …………………………………………………………………………… 1
C.   Tujuan ……………………………………………………………………………………………… 1
BAB II : PEMBAHASAN
A.   Kedudukan Bahasa Indonesia  ……        …………………………………………………… 2
B.   Fungsi Bahasa Indonesia  ………………………………………………………………… 2
C.   Ragam Bahasa Indonesia    ……………………………………………………………… 4
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan  ………………………………………………………………………………………………… 9
DAFTAR PUSTAKA  ……………………………………………………………………………………… 10







iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Indonesia adalah Negara yang memiliki beraneka ragam suku, budaya, dan bahasa. Bahasa secara umum adalah sistem lambang bunyi ujaran atau ucapan yang dipergunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat. Bahasa memiliki hakikat bentuk dan makna, serta bersifat arbitrer (kesepakatan).
       Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang paling penting untuk mempersatukan seluruh rakyat Negara Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan satuan atau gabungan bahasa melayu, bahasa asing dan bahasa daerah yang dijadikan sebagai bahasa resmi dan bahasa persatuan Republik Indonesia.
       Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang berada diatas kedudukan bahasa daerah. Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi dan ragam yang berbeda. Untuk itulah kita perlu mempelajarinya dengan lebih jauh dan dalam lagi tentang kedudukan, fungsi dan ragam bahasa Indonesia.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana kedudukan bahasa Indonesia?
2.    Apa fungsi dari bahasa Indonesia?
3.    Bagaimana ragam bahasa di Indonesia?

C.  TUJUAN
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan, fungsi dan ragam bahasa Indonesia. Dan untuk melengkapi tugas kelompok mata kuliah Bahasa Indonesia 1.






1
BAB II
PEMBAHASAN
A.   KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting, yang tercantum pada :
1.    Ikrar ketiga Sumpah Pemuda Tahun 1928 yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”
2.    Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah bahasa Indonesia”
Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara Republik Indonesia.
B. FUNGSI BAHASA INDONESIA
1. Fungsi Bahasa Indonesia Berdasarkan Kedudukannya Sebagai Bahasa Nasional
Kedudukan bahasa Indonesia berada diatas bahasa-bahasa daerah. Berdasarkan hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 menegaskan bahwa bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, berfungsi sebagai :
a)   Lambang kebanggaan Nasional.
Sebagai lambang kebanggaan Nasional bahasa Indonesia memancarkan nilai- nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, kita harus bangga, menjunjung dan mempertahankannya. Sebagai realisasi kebanggaan terhadap bahasa Indonesia, harus memakainya tanpa ada rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh. Kita harus bangga memakainya dengan memelihara dan mengembangkannya.
b)   Lambang Identitas Nasional.
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan lambang bangsa Indonesia. Berarti bahasa Indonesia akan dapat mengetahui identitas seseorang, yaitu sifat, tingkah laku, dan watak sebagai bangsa Indonesia. Kita harus menjaganya jangan sampai ciri kepribadian kita tidak tercermin didalamnya. Jangan sampai bahasa Indonesia tidak menunjukkan gambaran bangsa Indonesia yang sebenarnya.


2
c)    Alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya.
Dengan fungsi ini memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Dengan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia merasa aman dan serasi hidupnya, karena mereka tidak merasa bersaing dan tidak merasa lagi ‘dijajah’ oleh masyarakat suku lain. Karena dengan adanya kenyataan bahwa dengan menggunakan bahasa Indonesia, identitas suku dan nilai-nilai sosial budaya daerah masih tercermin dalam bahasa daerah masing-masing. Kedudukan dan fungsi bahasa daerah masih tegar dan tidak bergoyah sedikitpun. Bahkan, bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia.
d)   Alat penghubung antar budaya antar daerah.
Manfaat bahasa Indonesia dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa Indonesia seseorang dapat saling berhubungan untuk segala aspek kehidupan. Bagi pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan kemanan mudah diinformasikan kepada warga. Apabila arus informasi antarmanusia meningkat berarti akan mempercepat peningkatan pengetahuan seseorang. Apabila pengetahuan seseorang meningkat berarti tujuan pembangunan akan cepat tercapai.
2. Fungsi Bahasa Indonesia berdasar kedudukannya sebagai Bahasa Negara (Bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)
Dalam Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 sampai dengan 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa didalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia befungsi sebagai :
a)   Bahasa resmi kenegaraan.
Bukti bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan adalah digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Mulai saat itu bahasa Indonesia digunakan dalam segala upacara, peristiwa serta kegiatan kenegaraan.
b)   Bahasa pengantar resmi dilembaga-lembaga pendidikan.
Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar, materi pelajaran yang berbentuk media cetak hendaknya juga berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing. Apabila hal ini dilakukan, sangat membantu peningkatan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek).  
3
c)    Bahasa resmi didalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.
Bahasa Indonesia dipakai dalam hubungan antar badan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Sehubungan dengan itu hendaknya diadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media komunikasi massa. Tujuan penyeragaman dan peningkatan mutu tersebut agar isi atau pesan yang disampaikan dapat dengan cepat dan tepat diterima oleh masyarakat.
d)   Bahasa resmi didalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.
Kebudayaan nasional yang beragam yang berasal dari masyarakat Indonesia yang beragam pula. Dalam penyebarluasan ilmu dan teknologi modern agar jangkauan pemakaiannya lebih luas, penyebaran ilmu dan teknologi, baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media cetak lain, hendaknya menggunakan bahasa Indonesia. Pelaksanaan ini mempunyai hubungan timbal-balik dengan fungsinya sebagai bahasa ilmu yang dirintis lewat lembaga-lembaga pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.

C. RAGAM BAHASA INDONESIA
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi resmi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 (tiga) :
1.  Berdasarkan Media
     2.  Berdasarkan Cara Pandang Penutur
3.  Berdasarkan Topik Pembicaraan



4
Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan Media:
1.   Baku Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelepasan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya.
Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.  Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.
Ø  Ciri-ciri ragam lisan:
a)   Memerlukan orang kedua atau teman bicara.
b)   Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu.
c)    Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
d)   Berlangsung cepat.
e)   Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu.
f)     Kesalahan dapat langsung dikoreksi.
g)    Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
Ø  Kelebihan ragam bahasa lisan:
a)   Dapat disesuaikan dengan situasi.
b)   Faktor efisiensi.
c)    Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan gerak anggota badan sehingga pendengar lebih paham apa yang dikatakan pembicara. Seperti situasi, mimik muka dan gerak-gerak pembicara.
d)   Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakannya.
e)   Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur.
f)     Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari informasi audit, visual dan kognitif.

Ø  Kelemahan ragam bahasa lisan :
a)   Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frase-frase sederhana.
b)   Penutur sering mengulangi beberapa kalimat.
c)    Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan.
d)   Aturan-aturan bahasa yang dilakukan tidak formal.

5
2.   Ragam Baku Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan didalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ø  Ciri-ciri ragam tulis :
a)   Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara.
b)   Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu.
c)    Harus memperhatikan unsur gramatikal.
d)   Berlangsung lambat.
e)   Selalu memakai alat bantu.
f)     Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi.
g)    Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda   baca.

Ø  Kelebihan ragam bahasa tulis :
a)   Informasi yang disajikan bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau materi yang menarik dan menyenangkan.
b)   Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.
c)    Sebagai sarana memperkaya kosakata.
d)   Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu mencanggihkan wawasan pembaca.

Ø  Kelemahan ragam bahasa tulis :
a)   Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.
b)   Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan nilai jual.
c)    Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong, oleh karena itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar.

3.   Ragam Lisan dan Tulisan
Ragam lisan menghendaki adanya lawan bicara yang siap mendengar apa yang diucapkan oleh seseorang.
Ragam tulis tidak selalu memerlukan lawan bicara (pembaca) yang siap membaca apa yang dituliskan oleh seseorang.


6
Contoh ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis
No
Ragam bahasa lisan
Ragam bahasa tulis
1.
Papy bilang saya harus segera pulang
Papy mengatakan bahwa saya harus segera pulang
2.
Adik lagi baca buku
Adik sedang baca buku
3.
Saya tinggal di Bandung
Saya bertempat tinggal di Bandung

4.   Ragam Baku dan Tidak Baku
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya.
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma.

Ragam bahasa berdasarkan Cara Pandang Penutur :
1.   Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek)
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda.
2.   Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur.
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks, vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
contoh:
1) Ira mau nulis surat seharusnya Ira mau menulis surat
2) Saya akan ceritakan tentang Kancil seharusnya Saya akan menceritakan tentang Kancil.

7
3.   Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

Ragam bahasa Indonesia berdasarkan Topik Pembicaraan :
Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari beberapa ragam diantara nya adalah :
1.       Ragam bahasa ilmiah
2.       Ragam hukum
3.       Ragam bisnis
4.       Ragam agama
5.       Ragam sosial
6.       Ragam kedokteran
7.       Ragam sastra

Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:
Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)







8
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.    Kedudukan Bahasa Indonesia adalah sebagai Bahasa Nasional dan Bahasa Negara Republik Indonesia
2.    Fungsi bahasa Indonesia berdasarkan kedudukannya adalah :
a.       Lambang kebanggan nasional
b.       Lambang identitas nasional
c.       Alat pemersatu
d.       Alat penghubung antar budaya
e.       Bahasa resmi kenegaraan
f.        Bahasa pengantar resmi lembaga pendidikan
g.       Bahasa resmi didalam bidang perhubungan dan pembangunan
h.       Bahasa resmi kebudayaan dan IPTEK
3.    Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicaraan, kawan bicara, orang yang dibicarakan, dan media pembicaraan. Ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan tulisan. Pada ragam tulis diharapkan para penulis dapat menggunakan bahasa yang baik dan benar serta menggunakan ejaan bahasa yang telah disempurnakan (EYD), sedangkan untuk ragam lisan diharapkan warga Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahsa Indonesia dengan baik serta bertuturkata dengan sopan sesuai dengan aturan yang berlaku









9
DAFTAR PUSTAKA
Finoza, Lamuddin. 2005. Komposisi bahasa Indonesia: untuk mahasiswa nonjurusan bahasa. Jakarta: Diksi Insan Mulia
Arifin, Z,E., dan S. Amaran Tasai. . Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.


















10